Sabtu, 12 Mei 2012

Dalang Pembantaian G30S/PKI


Antara 50 sampai 100 anggota PKI dibunuh setiap malam di jawa timur dan jawa tengah oleh pasukan anti-komunis sipil dengan restu Angkatan Darat. sebuah misionari disurabaya melapor bahwa 3.500 PKI dibunuh antara tanggal 4 sampai 9 November 1965 di kediri dan 300 orang dibunuh di pare.
(Dokumen CIA)
Sejarah kelam bangsa ini terjadi ditahun 1965-1966 dimana pembantaian saudara sebangsa terjadi, di awali dengan tindakan sewenang-wenang PKI merampas tanah milik rakyat dan tanah milik negara. tanah milik rakyat dirampas karena menurut PKI menganggap itu berlebihan maksudnya kekayaanmu berlebihan maka kami mengambilnya.

Dibanding era Musso, PKI di jaman D.N Aidit lebih disukai rakyat, PKI yang dikenal sebagai partai rakyat dengan simbol palu arit yaitu petani dan kuli bangunan yang berjanji memajukan para petani disamping janji lain PKI memberikan tanah bagi rakyat yang bergabung dengan PKI.

PKI yang dikenal sebagai tak bertuhan walau pemimpinnya DN Aidit pendiri perkumpulan keagamaan, “Nurul Islam” tetapi bagaimana bisa membiarkan anggotanya melakukan pesta mabuk-mabukan dan tarian telanjang pria dan wanita menjadi satu di tempat umum.

Perang dingin yang telah terjadi di dalam negara ini telah sampai puncaknya dimana PKI melakukan G30S/PKI. Pemberontakan itu terjadi, akan tetapi seperti era musso pada era D.N Aidit mengalami kegagalan. Dampak dari pemberontakan sangatlah dahsyat, Semua agama di indonesia mengakui pembantaian terhadap PKI harus terjadi, sehingga di pelosok negeri ini terjadi pembantaian manusia, diperkirakan 500 ribu sampai 1 juta tewas dalam pembantaian, yang sebagian di bantai hanya cap PKI bukan anggota PKI sesungguhnya.


Untuk kita yang hidup dijaman sekarang pasti berpikiran bahwa pembantaian itu tidak terjadi akan tetapi untuk orang-orang yang masih hidup dan melihat kejadian tersebut, pembantaian itu harus terjadi. Mungkin, jika pemberontakan itu sukses, bisa jadi kita tidak mengenal apa itu internet, karena mungkin orang tua kita telah dibantai.

Siapakah yang salah?

Bangsa ini hanyalah sebuah pion kecil dari 2 kekuatan besar di dunia. Semua tidak dapat terelakkan dari perseteruan 2 paham kapitalis dan sosial komunis.
Pemberontakan PKI terjadi setahun sebelum revolusi kebudayaan di china, jika Musso lebih pada Unisoviet, maka D.N Aidit pada china. Banyak perkiraan apabila pemberontakan ini berhasil, maka indonesia menjadi negara komunis terbesar ke-3 setelah china dan unisoviet, tentu komunis sudah menjadi setengah dari populasi penduduk dunia. Amerika pun beranggapan jika itu sampai terjadi, apa gunanya menang perang dari vietnam. sehingga kekuatan bawah tanah pun dibangun.

Di era Demokrasi Terpimpin, antara tahun 1959 dan tahun 1965, Amerika Serikat memberikan 64 juta dollar dalam bentuk bantuan militer untuk jenderal-jenderal militer Indonesia. Menurut laporan di media cetak “Suara Pemuda Indonesia”: Sebelum akhir tahun 1960, Amerika Serikat telah melengkapi 43 batalyon angkatan bersenjata Indonesia. Tiap tahun AS melatih perwira-perwira militer sayap kanan. Di antara tahun 1956 dan 1959, lebih dari 200 perwira tingkatan tinggi telah dilatih di AS, dan ratusan perwira angkatan rendah terlatih setiap tahun.

Negara ini bagai pion dalam permainan catur, pengorbanan pion untuk mendapat perwira besar adalah taktik yang selalu dijalankan. Suatu contoh korban dari perseteruan dua kekuatan besar ini adalah Jerman Barat dan Jerman Timur. Sedangkan korban yang sampai sekarang masih berseteru adalah Korea Selatan dan Korea Utara.


Negara ini memiliki beragam agama,suku dan kebudayaan, akankah kita kan menjadi pion dari dua kekuatan besar.akankah kita harus saling serang padahal kita lahir di tanah yang sama, Tanah Indonesia.

Sejarah Kelam Pemberontakan PKI di Madiun oleh Muso

Pada masa pemerintahan Kabinet Amir Syarifuddin berlangsung perjanjian Renville antara Pemerintahan RI dan Belanda. Kesepakatan tersebut tidak sesuai dengan keinginan masyarakat Indonesia. Beberapa tokoh pergerakan memutuskan untuk tidak memberikan dukungan kepada pelaksanaan Perjanjian Renville karena isi Perjanjian Renville sangat merugikan bangsa Indonesia.
sejarah pembrontakan pki madiun
Terlebih lagi jika mengingat wilayah RI semakin sempit dan harus mengakui garis Van Mook sebagai garis baru hasil Agresi Militer I. Kondisi itulah yang membawa perubahan kekuasaan sehingga Kabinet Amir Syarifuddin digantikan oleh Kabinet Hatta pada tanggal 29 Januari 1948. Kabinet Hatta diharapkan bisa mengganti kinerja Kabinet Amir Syarifuddin yang dinilai gagal memperjuangkan kesatuan NKRI.
Setelah kejatuhannya, Amir Syarifuddin menjadi tokoh oposan yang melawan kebijakan Pemerintah. Ia membentuk Front Demokrasi Rakyat pada tanggal 28 Juni 1948 di Surakarta. Front ini merupakan gabungan dari beberapa kelompok kekuatan politik saat itu, seperti Partai Sosialis, Pesindo, Partai Buruh, Partai Komunis Indonesia, dan SOBSI.
Tujuan pembentukan Front Demokrasi Rakyat adalah untuk merebut kekuasaan dengan cara demonstrasi dan melakukan tindakan-tindakan kekacauan lainnya. Kekacauan yang dibuat front tersebut misalnya penculikan dan pembunuhan tokoh-tokoh yang dianggap sebagai musuh. Kondisi ini menyebabkan terjadinya keresahan dan teror di masyarakat.

Penumpasan Pemberontakan PKI di Madiun

Sejak kedatangan Muso dari Moskow teror semakin meningkat, bahkan kesatuan-kesatuan Tentara Nasional Indonesia saling diadu. Hal ini sesuai dengan anjuran Muso melalui Partai Komunis Indonesia. Pada tanggal 18 September 1948 PKI merebut kota Madiun dan memproklamasikan berdirinya negara Republik Soviet Indonesia, bahkan keesokan harinya diumumkan pembentukan pemerintahan baru. Peristiwa ini dikenal dengan Pemberontakan PKI di Madiun.
Untuk mengatasi pemberontakan PKI tersebut, Pemerintah RI bertindak cepat. Propinsi Jawa Timur dijadikan sebagai daerah istimewa dan Kolonel Sungkono, saat ini dikenal sebagai Mayjend Sungkono, diangkat menjadi Gubernur Militer. Karena Panglima Besar Jenderal Sudirman sedang sakit, maka pimpinan operasi penumpasan diserahkan kepada Kolonel A.H. Nasution yang menjabat sebagai Panglima Markas Besar Komando Jawa.
Walaupun menghadapi kesulitan, seluruh kekuatan pemberontak akhirnya dapat ditumpas. Pada waktu itu sebagian besar anggota TNI terikat menjaga garis demarkasi menghadapi Belanda dengan menggunakan dua brigade kesatuan cadangan umum Divisi III Siliwangi. Penumpasan pemberontakan PKI juga dibantu Brigade Surachman dari Jawa Timur serta kesatuan lain yang setia kepada Republik. Dalam penumpasan tersebut, Muso ditembak mati dan Amir Syarifuddin dijatuhi hukuman mati

Khusus Kolektor: Majalah anak-anak paling pertama di Indonesia, 66 nomor Majalah anak-anak Kunang-kunang th.1950, 1951, 1952, 1953, dan th.1954.









66 nomor Majalah anak-anak Kunang-kunang th.1950, 1951, 1952, 1953, dan th.1954.
Majalah anak-anak paling pertama di Indonesia, Kunang-kunang terbit perdana th.1949.
Majalah ukuran besar, kurang lebih seukuran majalah Tempo dan Femina.

Kita juga mengenal majalah anak-anak jadul lainnya, yaitu majalah Si Kuncung.
Tapi majalah anak-anak ini terbit perdana th.1956, sehingga ia menjadi majalah anak-anak jadul yang nomor dua paling tua di Indonesia.
Tentang keberadaan majalah anak-anak jadul lainnya, yang mungkin paling diingat  oleh generasi yang saat ini berumur  sekitar 40 – 50 tahun, adalah majalah Bobo.
Walaupun Bobo  adalah majalah anak-anak jadul yang paling populer pada masanya,
Bobo terbit perdana pada th.1973, sangat jauh jaraknya kalau dibandingkan dengan Kunang-kunang

Kunang-kunang terbit perdana th.1949, masih di Masa Revolusi Indonesia th.1945-1949.
Ketika Indonesia sedang berusaha keras mempertahankan Kemerdekaan yang baru saja diraihnya.
Kondisi: sebagian besar masih sangat bagus untuk ukuran majalah anak-anak yang sudah kuno / antik (Silahkan lihat gambar diatas)

Untuk melihat gambar yang lebih besar / lebih jelas,
click pada gambar yang akan dilihat.

Harga murah borongan: Silahkan Nego
                             
Keterangan lebih lanjut mengenai pembelian,
pengiriman barang, cara pembayaran dll.
silahkan hub. HP. 021.9471.2076
atau e-mail: neneng1971@yahoo.com
Pengiriman ke luar kota, tambahkan sedikit ongkos kirim
untuk biaya TIKI atau Posindo.

Buku jadul "Tanah Air Kita" yang memuat ratusan foto foto tentang Indonesia tempo doeloe



Buku "Tanah Air Kita" yang memuat ratusan foto foto tentang Indonesia tempo doeloe.
95% dari buku ini berisi foto-foto jadul ukuran besar lengkap dengan keterangannya.
Buku ini berisi kumpulan foto-foto hasil karya fotografer tahun 1950-an.
Jika dibuka akan mengingatkan kita pada masa lalu, suasana alam dan manusia
yang masih relatif murni, tenang, damai dan belum terkena berbagai macam polusi.

Douwes Dekker sebagai penyusun buku ini menampilkan ratusan foto
hasil karya fotografer orang Belanda dan Indonesia. 
Dari 300-an foto yang ada, lebih dari 90% foto hasil jepretan orang Belanda. 
Buku diterbitkan oleh W. Van Hoeve Bandung - s-Gravenhage,
tahun terbit tidak ada, kurang lebih th.1950an.
Ukuran: 22 X 31 cm dan Tebal: 334 halaman.
Ini adalah buku dengan format yang besar dan tebal.
Kondisi: sangat bagus untuk ukuran buku tua, halaman lengkap, jilid utuh
Ini adalah edisi dalam bahasa Inggris yang langka dan hanya dicetak sedikit di masa itu. Yang dijual di pasaran, hanya ada yang edisi bahasa Indonesia.

Buku karangan R.A. Kartini "Habis Gelap Terbitlah Terang", diterbitkan oleh Balai Pustaka Djakarta th.1962


Buku karangan R.A. Kartini
"Habis Gelap terbitlah terang"
Diterbitkan oleh Balai Pustaka Djakarta  th.1962
Tebal  234 halaman

Kondisi: bagus, halaman lengkap, jilid utuh dan ketat / kuat.
Buku Kartini jadul adalah buku yang cukup langka.
             
Raden Ajeng Kartini
Door Duisternis tot Licht, Habis Gelap Terbitlah Terang, itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat-sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.
Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.
Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu.
Pada saat itu, Raden Ajeng Kartini yang lahir di Jepara, Jawa Tengah pada tanggal 21 April 1879, ini sebenarnya sangat menginginkan bisa memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, namun sebagaimana kebiasaan saat itu dia pun tidak diizinkan oleh orang tuanya.
Dia hanya sempat memperoleh pendidikan sampai E.L.S. (Europese Lagere School) atau tingkat sekolah dasar. Setamat E.L.S, Kartini pun dipingit sebagaimana kebiasaan atau adat-istiadat yang berlaku di tempat kelahirannya dimana setelah seorang wanita menamatkan sekolah di tingkat sekolah dasar, gadis tersebut harus menjalani masa pingitan sampai tiba saatnya untuk menikah.
Merasakan hambatan demikian, Kartini remaja yang banyak bergaul dengan orang-orang terpelajar serta gemar membaca buku khususnya buku-buku mengenai kemajuan wanita seperti karya-karya Multatuli "Max Havelaar" dan karya tokoh-tokoh pejuang wanita di Eropa, mulai menyadari betapa tertinggalnya wanita sebangsanya bila dibandingkan dengan wanita bangsa lain terutama wanita Eropa. 
 Dia merasakan sendiri bagaimana ia hanya diperbolehkan sekolah sampai tingkat sekolah dasar saja padahal dirinya adalah anak seorang Bupati. Hatinya merasa sedih melihat kaumnya dari anak keluarga biasa yang tidak pernah disekolahkan sama sekali.
Sejak saat itu, dia pun berkeinginan dan bertekad untuk memajukan wanita bangsanya, Indonesia. Dan langkah untuk memajukan itu menurutnya bisa dicapai melalui pendidikan. Untuk merealisasikan cita-citanya itu, dia mengawalinya dengan mendirikan sekolah untuk anak gadis di daerah kelahirannya, Jepara. Di sekolah tersebut diajarkan pelajaran menjahit, menyulam, memasak, dan sebagainya. Semuanya itu diberikannya tanpa memungut bayaran alias cuma-cuma.
Bahkan demi cita-cita mulianya itu, dia sendiri berencana mengikuti Sekolah Guru di Negeri Belanda dengan maksud agar dirinya bisa menjadi seorang pendidik yang lebih baik. Beasiswa dari Pemerintah Belanda pun telah berhasil diperolehnya, namun keinginan tersebut kembali tidak tercapai karena larangan orangtuanya. Guna mencegah kepergiannya tersebut, orangtuanya pun memaksanya menikah pada saat itu dengan Raden Adipati Joyodiningrat, seorang Bupati di Rembang.
Berbagai rintangan tidak menyurutkan semangatnya, bahkan pernikahan sekalipun. Setelah menikah, dia masih mendirikan sekolah di Rembang di samping sekolah di Jepara yang sudah didirikannya sebelum menikah. Apa yang dilakukannya dengan sekolah itu kemudian diikuti oleh wanita-wanita lainnya dengan mendirikan ‘Sekolah Kartini’ di tempat masing-masing seperti di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, dan Cirebon.
Setelah meninggalnya Kartini, surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang). Apa yang terdapat dalam buku itu sangat berpengaruh besar dalam mendorong kemajuan wanita Indonesia karena isi tulisan tersebut telah menjadi sumber motivasi perjuangan bagi kaum wanita Indonesia di kemudian hari.
Apa yang sudah dilakukan RA Kartini sangatlah besar pengaruhnya kepada kebangkitan bangsa ini. Mungkin akan lebih besar dan lebih banyak lagi yang akan dilakukannya seandainya Allah memberikan usia yang panjang kepadanya. Namun Allah menghendaki lain, ia meninggal dunia di usia muda, usia 25 tahun, yakni pada tanggal 17 September 1904, ketika melahirkan putra pertamanya.
Mengingat besarnya jasa Kartini pada bangsa ini maka atas nama negara, pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964 yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

dari: http//www.tokohindonesia.com

Koleksi Iklan2 Kuno dari Jacobson van den Berg & Co, Perusahaan Importir di Batavia, pada Jaman Belanda (Nederlandsch Indie)

De Groote Merken !
Merek paling Terkenal !
Imp. Jacoberg / Importir Jacoberg
Jacobson van den Berg & Co.
Tuan dan Nyonya Belanda sedang minum-minum,
diantar oleh pelayan dari negeri jajahan
Sole Importers
Jacobson van den Berg & Co
Samarang, Soerabaya, Batavia, Bandoeng
Cheribon, Makassar, Palembang, Bandjermasin
Iklan Kuno berbagai Merk Rokok jadul - No.1
Iklan Kuno berbagai Merk Rokok jadul - No.2
Iklan Kuno berbagai Merk Rokok jadul - No.3
 Iklan Kuno berbagai Merk Rokok jadul - No.4
 Iklan Kuno berbagai Merk Rokok jadul - No.5
Iklan Kuno berbagai Merk Rokok jadul - No.6
 
Iklan Kuno berbagai Merk Rokok jadul - No.7






8 bh. Iklan Kuno dari Jacobson van den Berg & Co,
Perusahaan Importir di Batavia, pada Jaman Belanda (Nederlandsch Indie).
1 bh. Iklan minuman keras dan 7 bh. iklan rokok impor.
Ukuran iklan: rata-rata ukuran Folio dan A4.
Bagian belakang iklan: masing-masing semuanya Blank / kosong.
Iklan2 dari kertas jadul yang tebal.
Termasuk 2 bh. bungkus Rokok Jadul yang ada bersama-sama iklan2 kuno tsb.

Jacobson van den Berg & Co didirikan pada 1 Juni 1860, memiliki kantor di Jl. Kalibesar 111, Jakarta Barat. Gedungnya terkenal hingga saat ini dengan nama Toko Merah. Perusahaan yang bergerak di bidang asuransi dan industri itu  merupakan salah satu dari The Big Five (lima perusahaan raksasa milik Belanda), selain Internatio, Lindeteves, Borsumij dan Geo Wehry.
The Big Five membentuk sebuah trading house yang kuat dan menguasai jaringan bisnis perdagangan, produksi, jasa, industri, serta distribusi di berbagai negara.
Pada zaman Belanda, NV Jacobson merupakan salah satu perusahaan raksasa yang memiliki jaringan tersebar di seluruh dunia dan memiliki cabang di seluruh kota di Nusantara. Setelah Jepang menaklukkan Hindia Belanda (1942-1945), sejumlah karyawan Belanda, khususnya yang menduduki jabatan tinggi di Jacobson van den Berg dan empat perusahaan lainnya, raib tidak ketahuan rimbanya - diduga dibantai oleh Dai Nippon.
Dalam buku Toko Merah Saksi Kejayaan Batavia Lama di Tepian Muara Ciliwung, Thomas B Ataladjar menulis bahwa pada 1946 — setelah NICA berkuasa kembali di Jakarta — perusahaan raksasa NV Jacobson van den Berg kembali menempati gedung lamanya itu, yakni Toko Merah. Melihat Toko Merah kita jadi ingat pada NV Jacobson van den Berg, sebuah perusahaan dagang Belanda yang dinasionalisasi pada tahun 1957 (pada masa Bung Karno), dan pernah menempati gedung serba merah tersebut. Ketika dilakukan penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia sebagai hasil dari Konperensi Meja Bundar (KMB) Den Haag pada tahun 1949, masih banyak persoalan yang belum tuntas. 

Bung Karno yang tidak sabar, karena persoalan daerah paling timur Indonesia itu tidak kunjung selesai, pada 13 Pebruari 1956 memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda. Keputusan Bung Karno itu disambut hangat oleh rakyat Indonesia.  Perusahaan-perusahaan milik Belanda yang masih beroperasi diambil alih. Dalam pidatonya melalui RRI Bung Karno mengancam agar para buruh mengambil alih semua perusahaan Belanda bila tidak mau menyerahkan Irian Barat (Papua) kepada Indonesia.

Begitu mendengar pidato Bung Karno itu, para buruh langsung mengambil alih perusahaan milik Belanda,  termasuk NV Jacobson van den Berg. 
Perkebunan dan perbankan milik Belanda juga dinasionalisasi.
Bank-bank peninggalan Belanda, setelah dilebur, menjadi Bank Mandiri. 
Sedangkan The Big Five kemudian dilebur menjadi PT Dharma Bhakti.
Sumber: http://alwishahab.wordpress.com

Foto Sejarah Perjuangan Indonesia

Bangsa yang besar adalah Bangsa Yang menghargai jasa-jasa pahlawannya. Berikut ini berbagai Foto Sejarah Perjuangan Indonesia dalam mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.

Para Pejuang Indonesia Sedang Berdiskusi
Foto Para pejuang Indonesia Menyusun Strategi
Presiden Indonesia Paling Keren Nih….
Foto Bung Karno menyambut Kedatangan tamu Negara
Foto Tempoe Doloe Pejuang Indonesia
Bung Karno Tokoh Intelektual Indonesia

Foto Bung Karno Bersama Tokoh Pejuang Bangsa Indonesia
Bung Hatta Di pengasingan
Foto Pejuang Indonesia Yang sedang bertempur

Foto-foto Perjuangan Rakyat Indonesia Tempo dulu

Indonesia kini sudah merdeka, aman dan nyaman untuk dihuni oleh manusia. Namun, jika kita melihat foto-foto di bawah ini, rasanya sangat biadab jika orang-orang yang sekarang tinggal di Indonesia, khususnya para pemerintah, tidak bersyukur. Dalam kata lain, menjaga kemerdekaan dengan cara menjadikan negeri ini lebih baik lagi.